SMK NEGERI 1 LASUSUA
Jl. Praja Kompleks Perkantoran Pemda
Kolaka Utara, Sulawesi Tenngara
Sekolah
ini di dirikan Pada Tahun 2009, yang hanya terdiri atas dua jurusan
yaitu : Geologi pertambangan dan Teknik Komputer dan Jaringan.
Pada Tahun berikutnya bertambah lagi satu jurusan yaitu Administrasi Perkantoran.
Saat ini SMK N 1 lASUSUA Terdiri atas 4 Jurusan antara Lain:
1. Geologi Pertambangan
2. Teknik Komputer dan Jaringan
3. Administrasi Perkantoran
4. Akuntansi
Sumber Link:http://smknegeri1lasusua.blogspot.com/
Tentang Sekolahku
Diposting oleh mimy97 di 22.24
Objek Wisata lasusua
Pantai Ujung Tobaku




Salah
satu pantai indah yang ada disulawesi tenggara adalah pantai ujung
tobaku ini..meskipun tidak begitu banyak fasilitas tersedia dipantai ini
namun pemandanganya sangat mengagumkan masih asri dan laut lepasnya
yang memikat...
Obyek wisata ini terletak di Desa Ujung Tobaku Kecamatan Laususa dengan jarak dari Ibukota Kabupaten adalah 15 km dan dari Ibukota Kecamatan 15 km. Dapat ditempuh dengan menggunakan kendaraan roda dua dan roda empat dengan luas obyek wisata ± 1 hektar.
Obyek wisata ini terletak di Desa Ujung Tobaku Kecamatan Laususa dengan jarak dari Ibukota Kabupaten adalah 15 km dan dari Ibukota Kecamatan 15 km. Dapat ditempuh dengan menggunakan kendaraan roda dua dan roda empat dengan luas obyek wisata ± 1 hektar.
Sumber Link :http://bumi-nusantara.blogspot.com/2009/03/pantai-ujung-tobaku.html
Diposting oleh mimy97 di 22.14
Tentang Lasusua
Lasusua, sebuah kota kecil
diperbatasan provinsi Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara, kini telah
menjadi sebuah ibukota Kabupaten yang baru sekitar 5 tahun lalu
dimekarkan. Namanya Kabupaten Kolaka Utara (Kolut) Provinsi Sulawesi
Tenggara, pemekaran dari Kabupaten Kolaka, yang dikenal sebagai ‘daerah
dollar’-nya Sulawesi.
Meski
status kota kecil, Lasusua dan wilayah Kolaka Utara lainnya benar-benar
sebuah daerah kaya di Indonesia. Alamnya yang subur, tanahnya mngandung
nikel, lautnya yang mempesona, sungguh sebuah anugerah besar. Paling
tidak, saat krisis moneter melanda Indonesia di tahun 1998-1999,
wilayah ini justru mengirimkan jemaah haji yang jumlahnya mencapai dua
ribuan orang. Padahal saat itu, satu daerah di Indonesia, mengirim
jamaah haji puluhan orang saja adalah sebuah kelangkaan.
Menuju Lasusua, memang butuh
waktu dan perjalanan panjang, sebab akses melalui jalur udara belum ada.
Untuk mencapai kota ini, ada dua cara, melalui jalur darat dan jalur
laut. Jalur darat, bisa melalui Kota Kendari menuju Kota Kolaka yang
jaraknya sekitar 150 Km, selanjutnya dari Kota Kolaka menuju Lasusua
menempuh perjalanan sekitar 137 Km. Panjang dan melelahkan memang,
tetapi panorama dan sejuknya alam akan menghibur perjalanan Anda, belum
lagi jika Anda mampir di Sungai Tamborasi, sungai terpendek di dunia,
tentu menjadi pengobat kepenanatan perjalanan Anda.
Untuk
jalur laut ini yang paling simpel. Dari Kota Makassar Sulsel naik
kendaraan menuju Siwa Kabupaten Wajo. Disalah terdapat jalur pelayaran
Fery Siwa-Lasusua yang dapat ditempuh dalam waktu empat jam, atau naik
kapal cepat (fiber) yang dapat ditempuh hanya 1,5 jam lamanya. Namun,
Anda tidak perlu ragu dengan kebutuhan perjalanan Anda nantinya sebab di
Lasusua, kebutuhan standar itu banyak tersedia, maklum Lasusua adalah
kota kecil yang dikeributi para pedagang, baik dari Jawa, Makassar,
Kendari dan kota-kota lainnya di Sulawesi Tenggara. Hanya memang, jika
Anda seorang wanita, maka bahan kosmetik pelindung kulit perlu
disediakan, sebab Lasusua terbilang ekstrim dengan cuacanya. Sangat
panas. Maklum, udara laut yang menghembus kedarat terbentur pengunungan
yang membentang sangat panjang, belum lagi ‘hawa tanah’ yang naik
kepermukaan karena derap pembangunan yang terus dipacu dari waktu ke
waktu.
Markas Perjuangan Kahar Muzakkar
Jika
menggali unsur kesejarahan Kabupaten Kolaka Utara, maka wilayah ini tak
pernah lepas dari cerita dan sepak terjang seorang Kahar Muzakkar.
Seorang gembong DI/TII, yag dikenal sebagai mantan militer yang dekat
dengan Presiden Soekarno. Kahar, dikenal sebagai sosok pemberontak yang
justru menjadi ‘pahlawan’ bagi warga Lasusua dan Kolaka Utara pada
umumnya. Bahkan, disana beberapa orang mantan kepercayaan Kahar Muzakkar
beranak pinak di sini. Bahkan di kawasan ini pula, warga percaya bila
Kahar masih punya istri, namun tidak memiliki anak.
Saking
pesona Kahar Muzakkar telah terpatri dalam jiwa para tetua di Kolaka
Utara, maka jangan sekali-kali mengatakan Kahar Muzakkar telah meninggal
dunia, sebab ‘orang-orang tua’ disini pasti membatahnya dan mengatakan,
“Siapa bilang Kahar telah meninggal?” begitu ungkapannya.
Bagi
para tetua Kolaka Utara, Kahar Muzakkar, seorang muballig, seorang yang
sakti, dan dikenal sangat perkasa. Berita kematian bahwa Kahar Muzakkar
telah tertembak peluru Eli Sadeli (seorang pasukan siliwangi saat jaman
pergerakan kemerdekaan), di sebuah kawasan di Kendari Utara (kini
Konawe Utara) sama sekali tidak dipercaya. Ada anggapan, jika yang
tertembak it bukanlah Kahar, bahkan ada yang menganggap mayat yang
diperlihatkan militer Siliwangi saat itu hanyalah gedebok pisang.
Kepercayaan itu, karena warga
disana sering menyaksikan kesaktian Kahar Muzakkar. Ada yang bertutur,
bahwa pernah Kahar di jumpai menjadi imam Sholat Jumat di sebuah Masjid
di Kolaka Utara, namun masyarakat suku Moreonene yang berdiam di
Watubangga (Kolaka Selatan) yang jaraknya kurang lebih 200 km dari
Kolaka Utara juga mnyaksikan Kahar Muzakkar memimpin Jumatan di masjid
mereka. Artinya, dalam waktu yang bersamaan, jarak sangat berjauhan,
Kahar telah memperlihatkan dirinya sebagai Imam Masjid. Benarkah?
Wallahu alam bissawab. Yang pasti, Kahar Muzakkar, telah menjadi bagian
dari cerita panjang orang Kolaka Utara.
Lalu kemana Kahar Muzakkar
menurut kepercayaan orang-orang Kolaka Utara? Ada yang mengganggap,
Kahar lari menuju Malaysia, ada pula yang menyebut ke Brunai Darussalam.
Yang lebih ekstrim, ada yang menggap tokoh Malaysia, Datu Mussa Hitam,
dipercayai sebagai Kahar Muzakakkar.
Pernah ada seorang ulama kesohor
dari Malaysia datang ke Kolaka dan Kolaka Utara, dan sempat membawa
ceramah terbuka di Lapangan Sepak bola. Ulama itu (maklum namanya
terlupakan), konon berapa kali memperlihatkan ‘karomahnya’ yang
dipercaya sebagai kesaktian Kahar Muzakkar. Saking melekatnya
kepercayaan orang Kolaka Utara terhadap Kahar, maka ulama itu sendiri
disebut oleh orang-orang tertentu sebagai jelmaan kahar Muzakkar.
Wah..!!
Lepas dari cerita panjang
Kota Lasusua dan keberadaan Kahar Muzakkar disana, saya sendiri mencoba
mengusulkan pada orang-orang dekat Bupati Kolaka Utara, Rusda Mahmud,
untuk membuatkan monumen Kahar Muzakkkar di Kota Lasusua, sebagai salah
satu ikon kota, dan tentunya mengenang sepak terjang tokoh kontraversial
itu.
Bergaya Singapura
Semenjak
menjadi ibukota Kabupaten Kolaka Utara, dan dipimpin pasangan Rusda
Mahmud sebagai Bupati dan wakilnya Ny. Hj Zahariah sebagai Wakil Bupati,
Kota Lasusua terbilang kota tercepat di Sulawesi Tenggara dalam
membangun infrastruktur perkotaannya.dibawah kepemimpinan sang Bupati,
yang kini berjalan di tahun ketiga, Lasusua sungguh memperlihatkan
pesonanya.
Bangunan megah kantor Bupati dan
DPRD diperbukitan seolah menjadi lambang kemegahan Lasusua memandang
lepas kearah lautan. Jalanpun dibuat lurus membentang kebibir pantai,
dan berdiri megah Masjid Agung yang seolah menjadi pintu Gerbag Utama
Kota Lasusua. Dalam konsep Bupati, Masjid Agung ini dibangun ala Brunai
Darussalam, dan bakal menjadi masjid terbesar di Sulawesi Tenggara.
Antara Kantor Bupati dan Masjid
Agung, dalam luasan ratusan hektar terbangun beberpa fasilitas
pendukung dalam lingkaran besar, mulai dari showroom, mall, guesthouse,
hingga wisma-wisma VIP, yang dikelilingi beberapa perkantoran
pemerintahan, yang menyerupai struktur bangunan ala negara Singapura.
Konsepnya, Lasusua akan dijadikan kota dagang ala Singapura. Bahkan,
beberapa desain bangunan disana juga dibangun ala bangunan-bangunan
Singapura, meski bangunannya tidak berbentuk menara tinggi yang
menjulang ke angkasa.
Pengakuan
beberapa jurnalis yang bekerja disana menyebutkan bila kentalnya aroma
Singapura atas bangunan-bangunan di Kolaka Utara khususnya di Lasusua,
mungkin adalah hasil ‘perguruan’ sang Bupati di Singapura, yang konon
pernah selama beberapa bulan ‘berguru’ di negara yang didirikan Sir
Stamford Rafless itu. Hebat..!!
Sayang
seribu sayang, kepiawaian Sang Bupati membangun negerinya kini
kesandung kasus hukum, yang bakal menggoyang langkah Bupati menuju kursi
dua periode. Korupsi? “Bukan, konon masalahnya Bupati pernah terlibat
kasus hukum sebelum menjadi Bupati, tapi itu hanya politik” begitu kata
rekan Jurnalis saya disana.
Tapi apapun cerita, masyarakat
Lasusua dan Kolaka Utara yang terdiri dari suku Bugis, Makassar, Toraja,
Mekongga dan Bugis Luwu umumnya bukanlah masyarakat yang latah dengan
politik. Mereka lebih konsentrasi dengan hasil perkebunan kakao di kebun
masing-masing, yang pengasilannya jauh melebihi pendapatan PNS umumnya.
“Orang Kolaka Utara berterima kasih sama Pak Bupati yang sudah mebangun
Kolaka Utara dengan cepat, kami tak urus politik, untuk apa? Lahan
Kakao kami masih lebih baik deari pada urus politik, Pak Rusda saja jadi
Bupati sudah sangat bagus,” ujar Mustafa, warga Lasusua. (**)
Baubau, 12 Maret 2010
sumber link: http://www.hamzahpalalloi.web.id/2010/05/lasusua-kahar-muzakkar-dan-gaya.html
Diposting oleh mimy97 di 22.41
Langganan:
Postingan (Atom)


